Tampilkan postingan dengan label Global warming. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Global warming. Tampilkan semua postingan

Poh on Bukan sebagai Penyimpan Air

Category:
13266499301565121368
Kawasan hutan yang memiliki banyak tegakan pohon terus menyuplai air secara teratur melalui mata air yang ada.
Seorang pegiat LSM bidang lingkungan hidup berbicara dalam sebuah forum diskusi tentang upaya yang harus dilakukan dalam menyelamatkan lingkungan hidup. Gaya berbicaranya bagai seorang orator. Suaranya yang berapi-api membuat audien terkesima. Banyak isu bermanfaat yang disampaikannya, diantaranya tentang isu kerusakan hutan yang menjadi faktor utama timbulnya banjir.
13266500311680383118
Kawasan tanpa tegakan pohon, top soil-nya akan tergerus air sehingga menjadi lahan kritis
Penulis sangat terkejut begitu dia mengulas tentang fungsi pohon sebagai penyimpan air. Saat itu, untuk sementara dapat disimpulkan bahwa dia kurang memahami tentang hubungan pohon dengan ketersediaan air dalam suatu ekosistem. Ironis jika seorang pegiat lingkungan hidup kurang memahami konsep itu, dikhawatirkan dapat menyesatkan para audien.
Sungkan untuk menyanggah ulasannya, khawatir nanti dapat merusak reputasinya yang lagi terkenal karena kegigihannya menyelamatkan lingkungan hidup. Penulis ingin mengulas konsep itu melalui sebuah tulisan, lalu menandai (tag) mereka di facebook dan twitter, termasuk beberapa teman lain yang hadir pada acara diskusi itu.
Bagaimana sebenarnya hubungan hutan dengan air? Emil Salim (1993) mengatakan bahwa “hutan mempunyai kemampuan mengatur tata air, mencegah erosi dan banjir serta memelihara kesuburan tanah.” Kenapa hutan dikatakan memiliki kemampuan mengatur tata air? Hal ini tidak terlepas dari keberadaan jutaan bahkan milyaran tegakan pohon yang terdapat dalam suatu kawasan hutan.
Pohon itukah yang menyimpan air? Bukan! Pohon hanya menyimpan air untuk kebutuhannya sendiri. Tanahlah yang menyimpan air. Bagaimana cara tanah menyimpan air? Milyaran tegakan pohon dengan tajuknya serta kanopi yang cukup lebar akan menahan hempasan air hujan. Dalam posisi ini, air hujan tidak langsung menumbuk permukaan tanah, tetapi akan jatuh perlahan-lahan melalui tajuk (daun) dan mengalir melalui batang pohon.
Kemudian, permukaan tanah yang dipenuhi tegakan pohonnya akan menghasilkan seresah (litter) yang cukup banyak. Seresah itu berasal dari bahan organik berupa daun dan ranting kering yang gugur. Secara perlahan, seresah sedang menuju kepada proses pembusukan. Bahan organik itu terkumpul di atas permukaan tanah (top soil). Salah satu fungsi seresah dan tanaman bawah (rumput) adalah menahan hempasan air yang jatuh dari tajuk sehingga tidak langsung menumbuk permukaan tanah.
Fungsi lain dari seresah, dibawah bahan organik ini menjadi tempat menumpang hidup bagi jutaan organisme (misalnya cacing). Organisme ini melubangi tanah sebagai rumah dan tempat hidupnya. Prilaku organisme ini menyebabkan permukaan tanah menjadi gembur dan berpori. Pada saat air hujan yang menetes dari tajuk jatuh keatas seresah, pelan-pelan air itu mengalir ke permukaan tanah. Lapisan atas tanah (top soil) yang gembur dan berpori itu akan menyerap air tersebut untuk selanjutnya ditampung didalam aquifer (sungai bawah tanah).
Tingginya kemampuan penyerapan air oleh permukaan tanah yang berada di kawasan hutan, maka air hujan yang turun di sana tidak seluruhnya menjadi air larian (run off). Sebagian besar meresap ke dalam tanah, hanya sedikit yang menjadi air larian. Run off atau air larian adalah air yang tidak mampu diserap oleh permukaan tanah. Air ini akan turun ke kawasan yang lebih rendah. Jika air larian melebihi daya dukung sungai tentu dapat menimbulkan banjir.
Pastinya, sebagian besar air hujan yang turun di kawasan hutan akan diserap oleh tanah dan tersimpan di aquifer. Selanjutnya, air yang tersimpan di aquifer akan keluar secara teratur melalui mata air. Dari mata air itu, seterusnya air tersebut mengalir melalui sungai-sungai yang banyak terdapat di kawasan hutan. Ada juga air bawah tanah itu keluar sebagai mata air di sumur-sumur milik warga.
13266501539715270
Permukaan tanah akan hancur tanpa tegakan pohon dipermukaannya
Bagi kawasan yang tidak memiliki tegakan pohon, hempasan air hujan akan langsung menumbuk permukaan tanah. Tumbukan air hujan secara terus menerus dapat mengikis lapisan atas tanah (top soil). Tumbukan air hujan yang terus menerus akan mengikis top soil sehingga dapat menimbulkan longsor (land slide). Saat top soil yang kaya organisme itu telah terkikis, tinggallah tanah lapis kedua yang relatif keras, kadang-kadang tanah lapis kedua itu berwarna merah bata atau abu-abu.
Lapisan tanah dibawah top soil tersebut tidak memiliki pori-pori lagi untuk menyerap air. Begitu hujan turun, semua air hujan “dikirim” ke kawasan yang lebih rendah secara bersamaan. Dalam kondisi seperti ini, berarti bencana banjir sudah berada diambang mata. Oleh karena itu, tegakan pohon dan tanaman semak sangat dibutuhkan disemua tempat, terutama di kawasan hutan.
Apa keuntungan banyaknya tegakan pohon dan tanaman semak di kawasan hutan?
  1. Permukaan tanah tidak mendapat hempasan yang keras sehingga kondisi permukaan tanah (top soil) tetap gembur dan berpori;
  2. Proses air mencapai tanah sedikit lebih lama (karena menetes melalui tajuk dan batang pohon), sehingga proses penyerapan air lebih maksimal;
  3. Air larian akan berkurang karena air simpanan yang masuk kedalam tanah bertambah sehingga resiko terjadinya banjir akan berkurang.


ref:http://green.kompasiana.com/penghijauan/2012/01/16/pohon-bukan-sebagai-penyimpan-air/
READ MORE - Poh on Bukan sebagai Penyimpan Air

Tenggelamnya Tiang Gawang Kami

Category:
1326651945144254634
Dahulu disini sering diadakan kejuaraan sepakbola Tarkam
Anak-anak kecil asyik berlarian di sepanjang lapangan rumput yang sempit, sorak-sorai membahana di sekeliling pagar pembatas antara jalan dan tepi sungai. Tapi tiba-tiba suara mereka menjadi senyap, tidak lama kemudian langkah mereka terhenti karena bola yang mereka kejar jatuh dalam sungai. Tanpa membuang waktu yang lama, seorang dari mereka lantas mengambil galah bambu berukuran dua meter. Dengan hati-hati diiringi oleh tarikan nafaste kawan-kawannya, akhirnya dapat juga bola tercebur tadi terangkat ke permukaan. Sontak wajah ceria kembali menghiasi mereka dengan melanjutkan permainan bola plastiknya untuk menggapai cita-cita menjadi pemain Timnas yang berasal dari lapangan sempit.
Itulah gambaran yang saya tangkap pada tahun 2001 - 2004 lalu di bantaran kali jeling (sungai Ciliwung). Kebetulan sekolah saya mulai dari SD hingga SMA berada di kawasan tersebut, tepatnya di Jakarta Pusat. Jadi saat pulang sekolah acapkali mampir kesana untuk bermain layang-layang, menebar burung merpati dan tak ketinggalan bermain bola.
Namun kini sudah berubah, satu windu lamanya semenjak keluar dari sekolah menengah, saya pun tidak pernah bermain bola di lapangan sempit tersebut. Lapangan yang dahulunya banyak dikerumuni massa terutama saat sore hari untuk bermain bola, kini telah berubah menjadi kubangan lumpur. Sungai Ciliwung atau biasanya kami menyebut sebagai kali Jeling, letaknya sangat strategis karena di apit oleh dua pusat perbelanjaan seluler terbesar di Indonesia. Sekaligus terkenal akan daerah yang rawan, terutama pada malam hari.
Kalau melihatnya sekarang tampak di sekeliling sungai dipagari batu beton yang memanjang bak pembatas kota. Belum lagi airnya bertambah cokelat, kehitaman atau juga butek. Padahal dahulunya, meski daerah tersebut konon terdapat buaya putih namun tidak menyurutkan langkah beberapa warga untuk mandi atau mencuci pakaian serta peralatan makan. Bahkan beberapa anak kecil asyik melompat dari jembatan rel kereta jurusan Duri - Tangerang untuk berenang di sungai menjelang sore hari.
Sekarang semua itu telah berubah, mereka tidak takut terhadap kedalaman air juga tidak gentar akan adanya buaya putih. Namun, yang mereka khawatirkan justru luapan air dari sungai Ciliwung yang akan menerjang perumahan warga seperti tragedi 2007 lalu. Ya, kalau alam sudah berbicara, maka manusia pun hanya bisa berusaha untuk mencegahnya agar tidak berdampak luas.
Saat saya mengutarakan kepada kawan yang tinggal tepat dibawah bantaran sungai tersebut, beliau hanya geleng-geleng kepala. Menurutnya, setiap di awal bulan Januari, warga selalu waspada dan sering kerja bakti untuk membersihkan lingkungan di sekitarnya. Namun tetap saja banjir datang lagi, dan yang paling di khawatirkan adalah terjadinya lagi siklus tragedi banjir 5 tahunan yang biasanya setinggi satu meter.
Alam kah, yang membuat itu semua?
Tentunya tidak bisa juga menyalahkan alam, meski tragedi banjir bukanlah buatan manusia sendiri. Namun, setidaknya manusia turut andil dalam menciptakan banjir dan membuat cuaca menjadi ekstrem. Sebab kalau di lingkungannya sendiri bersih, maka tidak mungkin bisa terjadi banjir yang banyak di bicarakan orang terjadi setiap tahunnya.
Ingin menyalahkan Pemerintah? Ini yang sulit, sebab siapa suruh dahulu telah memilih sosok yang dahulu berkoar-koar Ahlinya dalam mengatasi banjir. Atau mengkambing hitamkan dengan dalih banjir merupakan kiriman dari Bogor?
Tentu tidak juga, sesuai hukum alam, air bergerak dari tempat tertinggu menuju tempat terendah. Dan, kebetulan Jakarta sebagai tempat pertemuan antara daratan dengan perairan di laut jawa. Tinggal bagaimana kita menyikapinya untuk tidak membuang sampah sembarangan.
Toh, bangsa Mesir dahulu pernah mengalami hantaman banjir hingga ketinggian sepuluh meter lebih ketika sungai Nil meluap pada tahun 2000 sebelum masehi. Justru karena sering menghadapi ancaman seperti itu, mereka jadi lebih sigap dan kuat dalam menghadapi bencana yang lain. Dan, kita masyarakat Indonesia, tidak seharusnya kalah dengan mereka yang peradabannya sudah jauh lewat ribuan tahun lamanya.
Yang diperlukan adalah niat dan semangat yang tertanam dari warganya untuk bergotong royong membersihkan lingkungannya. Dan mencanangkan agar tidak buang sampah sembarangan.
Sebab, yang paling berbahaya bukan cuaca ekstrem, melainkan kelakuan ekstrem dari manusia itu sendiri yang merusak sistem. Buang sampah sembarangan, penebangan pohon dengan serampangan, pembangunan pusat perbelanjaan tidak pada tempatnya hingga malas untuk kerja bakti membersihkan lingkuangannya sendiri.
Berharap agar cuaca ekstrem tidak terjadi, hingga akhirnya warga bisa menyaksikan permainan sepak bola di pinggir sungai Ciliwung lagi…
*     *     *
13266520101336896207
Tanggul yang mengelilingi Bantaran sungai Ciliwung atau biasa di sebut Kali Jeling
*     *     *
1326652080967241719
Jalan Latumenten, tepat di bawahnya debit air kian meninggi dan hampir rata dengan jembatan
*     *     *
1326652164475862657
Air berwarna kecoklatan
*     *     *
13266522601882317846
Tempat (segelintir) warga kalau malam, untuk buang hajat!
*     *     *
1326654518671651467
Bermain bola di samping tumpukan sampah yang menyengat (Foto koleksi tahun 2010 lalu)


ref: http://green.kompasiana.com/iklim/2012/01/16/tenggelamnya-tiang-gawang-kami/
READ MORE - Tenggelamnya Tiang Gawang Kami

Global Warming: Agama atau Sain Ilmiah?

Category:
Sudah hampir sepuluh tahun ini, saya mengamati, isu pemanasan global (global warming) menjelma menjadi suatu ‘kepercayaan’ yang besar yang mungkin lebih besar dari kepercayaan terhadap agama.
12949850081723830188
sumber: theadmad.com
Debat dan diskusi mengenai global warming sudah mengalami kemandegan sejak lama, lalu yang tersisa hanya ‘dogma’ dan ‘kepercayaan’ belaka. Siapapun yang berani mengotak-atik keyakinan mengenai global warming akan menuai hujatan dari ‘umat global warming’.
Dalam pandangan saya, basis keilmuan dan prinsip-prinsip keilmuan telah tergerus secara progresif oleh kebutuhan masyarakat dunia untuk mengimplementasikan keinginan dan temuan kolektif mereka mengenai global warming.
Sejauh pengetahuan saya yang bukan imuwan, suatu prinsip keilmuan (scientific principle) berawal dari ke-skeptis-an, ketidak(mudah)percayaan, penasaran, kebutuhan akan pembuktian—terlebih-lebih terhadap ide dan temuan kita sendiri.
Ilmu (sain) berpijak pada formulasi hipotesa-hipotesa, pengujian regresi progresif atas hipotesa tersebut, pengulangan, penyesuaian, serta perbaikan yang terus menerus sampai akhirnya menghasilkan model yang secara akurat sama dengan hasil obervasi langsung yang dilakukan.
Dan tentu saja, kapasitas dan kemampuan obeservasi tidak bersifat statis, melainkan mengikuti perkembangan teknologi alat dan perangkat observasi yang digunakan yang seringkali justru menghasilkan pemahaman yang lebih tinggi tingkat akurasinya
Jauh lebih penting lagi, proses dan pengujian terhadap suatu temuan tidak berhenti pada individu atau sekelompok orang (ilmuwan) saja. Penemu mempublikasikan hasil temuannya, sehingga orang (ilmuwan) lain bisa menambahkan, melengkapi, bahkan menguji setiap level proses temuan.
Jika individu/kelompok/pihak yang menguji bisa mengulangi observasi dan menemukan hasil yang sama, maka ilmuwan boleh berpikir bahwa mereka berada di jalur (proses) yang benar. Sebaliknya, jika ada orang (kelompok) lain menghasilkan kesimpulan berbeda melalui metode atau rute observasi yang berbeda, itu berarti kelemahan temuan semakin jelas, dan mengabaikan perbedaan tersebut akan menghasilkan temuan ilmu yang tidak bagus.
Bahaya terbesar dari proses penelitian ilmiah adalah ketika kita memperoleh hasil yang mendukung ‘hipotesa-bias’ yang terlahir dari selektifitas yang tidak kita sadari. Jika kita bersikeras mempertahankan ketersesatan tersebut, maka kita akan membohongi diri sendiri, lalu membuat lintasan dan jejak palsu yang mengaburkan serta tidak berkontribusi terhadap pemahaman dan proses secara keseluruhan.
Berbasis pemikiran sederhana saya seperti di atas ada beberapa proyeksi dan percontohan yang dijadikan pijakan oleh ‘nabi’ kepercayaan global warming (climatologist), yang saya rasa perlu dipertanyakan, diuji validitas-nya:
1. Model proyeksi yang dipergunakan terlihat parsial (tidak terintegrasi) - Ini akan menjadi tidak lengkap jika akan atau tidak merefleksikan susunan planet bumi. Asumsi bahwa susunan udara dan lautan hanya linear atau non-linear saja, sangat bias dan berpotensi bahaya. Pada kenyataannya, udara dan laut bisa bersifat tidak beraturan. Pengurangan sekecil apapun dari proyeksi non-linear berpotensi menimbulkan pengaruh yang besar (misalnya: efek ‘butterfly wings’). Semua orang tahu bahwa proyeksi ini banyak tidak mengikutsertakan berbagai pertimbangan—sehingga kemungkinan error-nya sangat besar.
2. Tidak ada banyak contoh material (bukti kuat) yang dibuka untuk publik - Sejauh ini tidak ada banyak contoh material (bukti-bukti kuat) yang ditunjukkan sebagai bahan pengujian lebih lanjut, tidak juga ada dipublikasikan mengenai model proyeksi yang dipergunakan secara terperinci. Semuanya terkunci rapat, mungkin disimpan ditempat paling rahasia di dunia. Sehingga tidak ada ilmuwan lain (di luar climatologist) yang berkesempatan mempelajari dan melakukan study banding untuk menguji validitas temuan.
3. Belum ada pengujian yang menantang - Sejauh ini, publikasi, konvensi, diskusi, bahkan konferensi resmi lebih banyak berbicara tentang bagaimana menjalankan amanat pencegahan global warming yang bisa melanggengkan kemapanan dan keyakinan akan hal tersebut dibandingkan mempertanyakan kebenaran/validitas temuan. Rasanya sangat wajar jika kemudian timbul kecurigaan: jangan-jangan selama ini semua study dan tentu saja publikasi, hanya berkisar disekitar asumsi dan fakta yang menguatkan model proyeksi awal  saja. Tidak ada yang pernah menantangnya. Etos seperti ini sangat berpotensi mengarahkan kita ke dalam myopia ‘berjamaah’ yang akhirnya membuat proyeksi awal tersebut menjadi memiliki nilai kebenaran mutlak. Sangat berbahaya.
4. Sumber data sangat minim, rentang waktu observasi juga pendek - Sumber data jangka panjang dari model global warming ini berasal dari inti es, lingkar kayu serta lapisan sedimen yang saya ragu apakah itu sesuatu yang mudah untuk diinterpretasikan?. Lalu sumber data tersebut dikawinkan dengan data (yang katanya) akurat yang interval pengukurannya relatif sangat pendek (kurang lebih 250 tahun) dibandingkan usia bumi yang sudah jutaan tahun. Ditambah dengan cakupan observasi yang tidak mengukur semua permukaan bumi. Saya koq hampir yakin model dan study ini mengandung kelemahan dan potensi kesalahan yang sangat besar.
5. Model Linear belum tentu benar - Model uji terakhir yang dipergunakan mengasumsikan beberapa model linear—hubungan antara suhu dengan efek rumah kaca. Sehingga, dengan mengurangi emisi gas buang akan mengurangi akan mengurangi suhu. Model hubungan dan penyimpulan yang sudah sangat mudah terlihat. Namun, pada kenyataannya mungkin hubungan itu bersifat non-linear dan bisa jadi juga bersifat ‘bi-stable’. Jika ternyata itu kebenarannya, maka akan menghasilkan babak baru dalam berpikir—emisi gas buangan akan terus ada bahkan mungkin semakin besar intensitasnya, dan mungkin justru akan membuat global warming menjadi menurun, bahkan tidak ada lagi!
Lalu, apa yang masih bisa kita yakini mengenai global warming? Okay, suhu meningkat terus, ada gas CO2 dan kandungan emisi gas buangan lainnya.  Tetapi, sebuah petaka telah menggerus keyakinan itu–beberapa email para climatologist bocor di University of East Anglia. Dari email-email yang bocor tersebut ditemukan beberapa modifikasi dan perubahan terhadap data mentah kajian mengenai iklim dan global warming!.
Liputan mengenai petaka kebocoran email data mentah global warming tersebur bisa di baca di: The Telegraph, the Associated Press dan CBC News.
Bersamaan dengan meningkatnya skeptis dan keraguan terhadap temuan perubahan iklim akhir-akhir ini, kebocoran email tersebut menjadi semacam amunisi, senjata ampuh bagi mereka yang memiliki kepentingan yang berlawanan.
Yang lebih parah lagi adalah penggunaan kata ‘trick’ di dalam salah satu email yang bocor terebut. Sungguh sebuah kata yang tidak sepantasnya keluar dari seorang ilmuwan (Trick = tipuan)
Bagaimana hal itu bisa terjadi? Mereka berargumentasi disekitar ketersesatan ‘para sahabat nabi’ global warming (climatologist) diantara butir 1 sampai dengan 5 yang saya sebutkan di atas. Mereka tersesat sendiri oleh kengototan-keilmuwan yang bias, bias bersamaan dengan datangnya gelombang kepercayaan publik yang terus membumbung tinggi mengenai global warming. Sebuah pelajaran pahit bagi ilmuwan dan masyarakat luas!
Dalam pandangan saya yang bukan ‘nabi’ global warming, semua pihak seharusnya bersikap kritis (jika perlu skeptis, mungkin lebih baik) mengenai pemanasan global. Global warming bukan masalah kecil. Ini menyangkut kelangsungan hidup planet yang dihuni oleh ribuan spesies mahluk hidup.
Yang saya khawatirkan BUKAN kenyataan bahwa isu global warming hanya rumor, bukan fakta bahwa global warming terbukti tidak benar. Samasekali bukan itu yang saya khawatirkan.
Yang saya khawatirkan justru kalau ternyata global warming itu memang sedang terjadi, TETAPI selama ini kita dipandu dengan persepsi dan asumsi yang salah. Sehingga kita melakukan hal-hal yang justru membuat keadaan planet bumi yang kita cintai ini menjadi lebih parah, bukannya membaik.
Kepada para ‘nabi’ dan ’sahabat nabi’ global warming (climatologist), mereka seharusnya merapatkan barisan, berkerja bersama-sama untuk melihat ulang, meneliti ulang, mengakji mana yang perlu diperbaiki, kalau perlu ganti model maupun data penelitiannya. Dan lebih penting lagi, mempublikasikan semua sumber data serta model penilitian secara luas. Sehingga, global warming tidak menjadi agama atau aliran kepercayaan baru, melainkan kajian sains yang bermanfaat.

reef: http://green.kompasiana.com/iklim/2011/01/14/global-warming-agama-atau-sain-ilmiah/
READ MORE - Global Warming: Agama atau Sain Ilmiah?

Himbauan AS Untuk Mengecat Putih Atap Kita ( Untuk Mengurangi Pemanasan Global )

Category:
by Tirto online
Baru-baru ini pemerintah Amerika Serikat melalui Mentri Energi AS Steven Chu mengatakan bahwa ingin mengecat atap dengan warna putih yang merupakan pemantul cahaya dan disebut energy-reflecting white hal ini merupakan hasil dari simposium perubahan iklim di London.

Hal ini juga mendapatkan Nobel di dalam fisika yang disebut revolusi baru dalam energi generasi untuk memotong emisi gas rumah kaca.

Selain itu dengan mengecat warna putih maka kita akan memantulkan balik sinar matahari.

Selain itu dengan mengecat putih semua atap kantor, cat dan rumah kita maka akan mengurangi penggunaan AC dikarenakan warna putih reflektif dan akan memberikan hawa dingin sehingga kita tidak perlu menambah PK untuk AC.

Rencananya 11 tahun kedepan akan melakukan pengecatan putih terhadap mobil-mobil produksi baru.

Ini merupakan langkah untuk Mengurangi efek global warming, Ide ekstrim ini bisa membuat semuanya putih :) saya sih setuju saja langkah ini untuk save earth juga kan, bagaimana dengan Anda ?



sumber : green.yahoo.com
READ MORE - Himbauan AS Untuk Mengecat Putih Atap Kita ( Untuk Mengurangi Pemanasan Global )
Prev home