Sebagian hama bisa diusir pada frekuensi 35 kHz, sebagian lainnya pada frekuensi 38 sampai 40 kHz. Dengan demikian untuk meningkatkan efektifitas, frekuensi osilator ultrasonik harus secara kontinyu bervariasi antara limit tertentu. Dengan menggunakan desain rangkaian ini, emisi frekuensi suara ultrasonik secara kontinyu bervariasi secara otomatis langkah-demi-langkah.
Di sini, lima langkah variasi yang digunakan namun cara yang sama bisa ditingkatkan menjadi 10 langkah, jika diinginkan. Untuk tiap keluaran clock pulse dari op-amp IC1 CA3130 (yang dihubungkan di sini sebagai osilator gelombang frekuensi rendah), keluaran logika 1 dari IC2 CD4017 (yaitu pencacah dekade yang sudah banyak dikenal) bergantian dari Q0 ke Q4 (atau Q0 ke Q9). Lima trimmer VR2 sampai VR6 (masing-masing terhubung pada pin keluaran Q0 sampai Q4) telah ditetapkan nilainya secara berbeda-beda dan terkoneksi ke pin pin 7 dari IC3 (NE555) secara elektronis. VR1 digunakan untuk mengganti clock pulse rate. IC3 dihubungkan sebagai astable multivibrator yang beroperasi pada frekuensi mendekati 80 kHz. Keluarannya tidaklah simetris. IC4 adalah CD4013, sebuah D-flip-flop yang mengantarkan sinyal simetris 40kHz pada Q dan keluaran Q diperkuat dalam modus push-pull oleh transistor T1, T2, T3 dan T4 untuk menggetarkan tweeter piezo murah-meriah berfrekuensi tinggi.
Untuk pengaturan frekuensi, Anda bisa menggunakan osiloskop. Ini bisa dilakukan dengan cara trial and error (mencoba-coba) juga jika Anda tidak memiliki osiloskop. Pengusir hama ini akan terbukti efektif karena di sini frekuensi ultrasonik secara otomatis diubah agar bisa mencakup beragam hama dan daya keluaran juga cukup tinggi. Jika keluaran ingin direndahkan dalam wilayah 30-50 kHz frekuensi ultrasonik maka kristal transducer perlu langsung terhubung melewati Q dan keluaran Q dari IC4 (transistor amplifier tidak diperlukan).
Skema Rangkaian:



0 Responses to "Alat Pengusir Hama Ultrasonik"
Posting Komentar