Media sosial? Tujuannya sih bagus. Untuk menghubungkan antar sesama individu dari belahan dunia mana pun. Mau kenal betulan atau hanya sekadar iseng-iseng sih boleh-boleh saja. Tapi, bagaimana kalau hal ini justru menjadikan individu tersebut menjadi makhluk anti-sosial?
Ini adalah pemikiran yang menarik. Selama ini kita terus-menerus mengintegrasikan teknologi maju ke dalam hidup kita, dengan beragam aplikasi tambahan ke perangkat kita. Facebook, Twitter, seolah menjadi kehidupan kedua. Melalui teknologi tersebut, kita menciptakan, menavigasi, dan menunjukkan kehidupan emosional kita.
Kita membentuk dunia sendiri, kemudian mereka membentuk kita. Hal yang sama berlaku pada teknologi digital kita. Teknologi telah menjadi arsitek keintiman kita. Dengan online, kita menghadapi momen banyak godaan.
Kita terus-terusan SMS-an dan bermain jejaring sosial sehingga kita tidak lagi merasa kesepian. Tapi ternyata kita mengabaikan orang-orang dan dunia di sekitar kita. “Itu merupakan masalah serius, yang harus ditangani oleh teknologi, regulator serta norma aturan,” ujar psikolog Sherry Turkle.
Sherry Turkle adalah seorang psikolog dan profesor dari studi ilmu pengetahuan sosial dan teknologi di Institut Teknologi Massachusetts (MIT). Dia telah secara ekstensif meneliti bagaimana teknologi telah mempengaruhi kemampuan kita, untuk menyendiri maupun berhubungan dengan orang di dunia nyata sekitar kita.
Turkle telah menerbitkan sebuah buku berjudul “Alone Together: Why We Expect More From Technology and Less From Each Other”. Bahkan, baru-baru ini Sherry Turkle menjadi pembicara di konferensi TED (Technology, Entertainment, Design) untuk mendidik masyarakat tentang masalah ini.
Satu petunjuk hubungan digital ala media sosial yang Turkle tunjukkan yakni, “Kita bisa mengedit, dan berarti kita bisa menghapus. Dan kita membersihkan mereka dengan teknologi.” Hal ini memang nyata, misalnya di Facebook, dimana kita bisa sesuai keinginan mengangkat seseorang menjadi teman atau pun menghilangkannya dari daftar teman kita. Turkle mengatakan bahwa jenis hubungan komunikasi macam ini menawarkan “ilusi persahabatan tanpa tuntutan persahabatan.”
Kira-kira apa yang buruk tentang mentalitas “saya berbagi, oleh karena itu saya ada”, di mana orang-orang menjalani hidupnya dengan memikirkan gambar-gambar yang akan diunggah dan status yang akan mereka posting (update)? Sisi individualistis lah yang akan muncul dominan.
Jadi, bagaimana menurut Anda? Apakah Turkle tepat akan pengamatannya mengenai dampak media sosial pada hubungan manusia di dunia nyata? Atau apakah cara interaksi macam ini merupakan bentuk evolusi berikutnya dari komunikasi manusia, dalam dunia digital? Rasanya tak nyaman ya model ini.
Ini adalah pemikiran yang menarik. Selama ini kita terus-menerus mengintegrasikan teknologi maju ke dalam hidup kita, dengan beragam aplikasi tambahan ke perangkat kita. Facebook, Twitter, seolah menjadi kehidupan kedua. Melalui teknologi tersebut, kita menciptakan, menavigasi, dan menunjukkan kehidupan emosional kita.
Kita membentuk dunia sendiri, kemudian mereka membentuk kita. Hal yang sama berlaku pada teknologi digital kita. Teknologi telah menjadi arsitek keintiman kita. Dengan online, kita menghadapi momen banyak godaan.
Kita terus-terusan SMS-an dan bermain jejaring sosial sehingga kita tidak lagi merasa kesepian. Tapi ternyata kita mengabaikan orang-orang dan dunia di sekitar kita. “Itu merupakan masalah serius, yang harus ditangani oleh teknologi, regulator serta norma aturan,” ujar psikolog Sherry Turkle.
Sherry Turkle adalah seorang psikolog dan profesor dari studi ilmu pengetahuan sosial dan teknologi di Institut Teknologi Massachusetts (MIT). Dia telah secara ekstensif meneliti bagaimana teknologi telah mempengaruhi kemampuan kita, untuk menyendiri maupun berhubungan dengan orang di dunia nyata sekitar kita.
Turkle telah menerbitkan sebuah buku berjudul “Alone Together: Why We Expect More From Technology and Less From Each Other”. Bahkan, baru-baru ini Sherry Turkle menjadi pembicara di konferensi TED (Technology, Entertainment, Design) untuk mendidik masyarakat tentang masalah ini.
Satu petunjuk hubungan digital ala media sosial yang Turkle tunjukkan yakni, “Kita bisa mengedit, dan berarti kita bisa menghapus. Dan kita membersihkan mereka dengan teknologi.” Hal ini memang nyata, misalnya di Facebook, dimana kita bisa sesuai keinginan mengangkat seseorang menjadi teman atau pun menghilangkannya dari daftar teman kita. Turkle mengatakan bahwa jenis hubungan komunikasi macam ini menawarkan “ilusi persahabatan tanpa tuntutan persahabatan.”
Kira-kira apa yang buruk tentang mentalitas “saya berbagi, oleh karena itu saya ada”, di mana orang-orang menjalani hidupnya dengan memikirkan gambar-gambar yang akan diunggah dan status yang akan mereka posting (update)? Sisi individualistis lah yang akan muncul dominan.
Jadi, bagaimana menurut Anda? Apakah Turkle tepat akan pengamatannya mengenai dampak media sosial pada hubungan manusia di dunia nyata? Atau apakah cara interaksi macam ini merupakan bentuk evolusi berikutnya dari komunikasi manusia, dalam dunia digital? Rasanya tak nyaman ya model ini.



0 Responses to "Media Sosial Malah Menjadikan Manusia Anti-Sosial?"
Posting Komentar